From : http://mta-online.com/
Seorang pemuda putus sekolah yang sudah bertahun-tahun menggelandang pernah berpura-pura menjadi orang gila untuk mengais sisa makanan di bak sampah. Betapa senang hatinya ketika mendapatkan sepotong paha ayam yang tidak dihabiskan oleh pembelinya. Sementara itu di sebuah restoran di seberang jalan teman swekolahnya yang telah menjadi seorang pengusaha untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama harus mengeluarkan Rp 200 ribu. Mereka merasakan kenikmatan yang sama meskipun pemuda penganggur itu tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Hari-hari dilalui oleh pemuda itu dengan perut yang lapar, namun kebahagiaan menyeruak ketika mendapatkan rejeki serupa. Sampai suatu hari dia melihat seorang pemulung mengumpulkan botol minuman dan kardus makanan. Di hari lain dia berkenalan dengan pemulung tersebut dan bertanya kemana dia menjual barang-barang itu dan berapa harganya. Pemulung setengah baya teman barunya itu memuaskan semua keingin-tahuannya dengan tulus. Mereka cepat akrab karena masing-masing merasa memiliki nasib yang sama.Pemuda luntang-lantung itu sekarang telah menjadi pengusaha kaya. Dengan mengawali usahanya sebagai seorang pemulung, kini dia telah memiliki lahan 5000 meter persegi untuk menampung barang-barang bekas yang dikumpulkan oleh banyak pemulung dan dikelola oleh 50 orang anak buahnya. Dia memiliki 12 buah truk untuk mengangkut barang dagangan ke berbagai perusahaan yang membutuhkan. Suatu hari ketika makan paha ayam di sebuah restoran dia teringat sewaktu pura-pura menjadi pemuda gila. Dia merasa pada saat itu paha ayam terasa lebih enak dari yang dikunyahnya saat ini. Dia mengkonsultasikan apa yang dialaminya kepada seorang ustadz. Ustadz tadi menjelaskan bahwa kebahagiaan itu tidak terletak pada uang atau pada paha ayam, tetapi pada hati kita masing-masing. Untuk itu mereka yang pandai mengelola hati akan mampu menghadirkan kebahagiaan setiap saat, meskipun orang lain mengatakan dia hidup dalam kemelaratan.Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa hidup di dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu. Hidup yang sesungguhnya adalah hidup di negeri akherat. Dunia ini hanya merupakan tempat untuk menguji hamba Allah dan hasil ujiannya akan diberikan dalam kehidupan yang sesungguhnya di negeri akherat. Mereka yang mengingkari kehidupan akherat, mereka yang tidak yakin akan adanya negeri akherat, mereka yang ragu-ragu akan keberadaan hidup sesudah mati tidak akan bersungguh-sunnguh mempersiapkan kehidupan itu. Mereka akan sibuk mengumpulkan harta dunia dan sibuk menikmatinya. Berpindah makan dari satu restoran ke restoran lain, berganti pasangan dari satu wanita ke wanita yang lain. Tidak peduli halal dan haram baik dalam mencari harta maupun membelanjakannya. Sistem nilai materialistis yang tertanam di hatinya memaksanya bergaya hidup seperti seorang borjuis. Untuk bahagia dia harus mendapatkan banyak harta terserah bagaimanapun caranya. Untuk bahagia dia harus membelanjakan banyak hartanya tidak peduli halal haram.Berbeda dengan sistem nilai yang diajarkan Allah kepada kita. Kebahagiaan seorang muslim itu terletak pada harapan akan keselamatannya di akherat. Dia akan bahagia bila dapat beramal dengan amalan yang dapat menyelamatkan dia dari siksa api neraka. Dia akan bahagia bila dapat beramal dengan amalan yang diridhoi oleh Dzat yang dicintainya yakni Allah yang mengusai sorga dan neraka. Ketika dia dapat bersedekah dengan hartanya dia bahagia karena yakin pahalanya akan berlipat ganda. Ketika dia mampu menyantuni anak yatim dia bahagia karena Rasulullah saw menjanjikan kedekatan dengan orang yang memelihara anak yatim kelak di sorga. Ketika menyingkirkan batu dari jalan, ketika tersenyum kepada saudaranya, dan ketika dia berdzikir kepada Allah ada kebahagiaan menyeruak di dalam hati karena dia tahu bahwa semua itu menambah timbangan amal yang dikumpulkannya untuk ditukar dengan sorga. Subhanallah, betapa bedanya orang yang yakin kepada kehidupan akherat dengan orang yang tidak meyakininya. Mereka yang tidak yakin kepada kehidupan akherat akan mengejar kebahagiaan dan kepuasan hawa nafsu dengan berbagai aktivitas yang melelahkan jiwanya. Sedang mereka yang yakin kepada kehidupan akherat akan dikejar oleh kebahagiaan itu dimana saja dia berada. Alhamdulillah, kebahagiaan itu senantiasa akan mengikutinya kemana saja dia melangkah. La ilaha illallah, tidak ada Tuhan selain Allah yang mampu memberikan kebahagiaan dengan mekanisme seperti itu. Allahu akbar, betapa besarnya karunia Allah yang berupa iman kepada hari akhir yang ditanamkan di dalam hati semua orang beriman. Pantas kalau dirinya senantiasa hidup bahagia meskipun dalam kemelaratan. Pantas kalau jiwanya tetap tenang dan damai meskipun harus menghadapi permusuhan dan penghianatan. Pantas kalau senyumnya senantiasa merekah meski kepada musuhnya yang paling kejam. Pantas kalau dia tampak tetap kokoh tegak berdiri meskipun diterpa berbagai goncangan. Dia sadar bahwa orang beriman yang akan menolongnya, sedang orang munafik akan memusuhinya. Hanya Allah yang dapat membuatnya susah, hanya Allah yang dapat menghentikan dia melangkah, hanya kepada Allah dia berkeluh kesah, hanya kepada Allah dia pasrah, dan hanya kepada-Nya dia menghadapkan wajah. (Air mataku berlinang ketika menuliskan ini-pen)From : http://mta-online.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar